TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN TUNA

Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna, huhate, handline. pukat cincin, dan jaring insang.

Rawai tuna (tuna longllne)
Rawai tuna atau tuna longline adalah alat penangkap tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan rangkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu tuna longliner biasanya mengoperasikan 1.000 – 2.000 mata pancing untuk sekali turun. Baca pos ini lebih lanjut

Konstruksi Kerangka TED

“Super Shooter” khusus didesain untuk memperkecil sampah-sampah yang terkumpul, seperti rumput-rumput laut yang menyangkut pada TED (besi-besi/rangka) yang menghambat lewatnya udang ke kantong. Konstruksi rangka TED dari batang aluminium atau pipa dan tidak memerlukan tahanan melintang.

Bahan-Bahan Konstruksi

TED harus dibuat dengan menggunakan besi batangan; batangan fibre glass; batangan aluminium atau dari bahan logam yang berat atau pipa aluminium.

Bahan Diameter Minimum Bagian Luar
Baja Batanean

Fibreglass, Aluminium Batangan

Pipa Baja atau Pipa Aluminium

¼ inchi (0,64 cm)

½ inchi (1,27 cm)

½ inchi (1,27 cm)

diperkirakan diperlukan 40 pipa

Baca pos ini lebih lanjut

Rawai Tuna, Kendala dan Solusi Operasionalnya

Rawai tuna atau tuna longline merupakan alat penangkap ikan tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan ragkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus. Satu tuna longliner biasanya mengoperasikan 1.000-2.000 mata pancing untuk sekali turun.

Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, yaitu menanti umpan dimakan ioleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan, sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyit mengikuti arus atau disebut drifting. Drifting berlangsung selama kurang lebih 4-5 jam. Selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal. Baca pos ini lebih lanjut

Perlukah Identifikasi Stok Ikan?

STOK ikan umumnya didefinisikan sebagai populasi ikan di perairan tertentu. Namun, orang sering kali memahami istilah stok dan populasi ikan sebagai suatu hal yang sama saja sehingga penggunaan kedua istilah ini menjadi sering rancu.

SEBENARNYA istilah stok lebih mengarah pada kelimpahan dan pengelolaan sumber daya tersebut, sedangkan populasi lebih terfokus pada aspek biologinya. Para ahli perikanan membedakan stok dan populasi ikan lebih tegas lagi. Stok memiliki pola migrasi dan lokasi pemijahan tertentu, sedangkan populasi ikan adalah kelompok suatu jenis ikan tertentu yang menempati daerah tertentu pada waktu tertentu. Baca pos ini lebih lanjut

PERANAN TEKNOLOGI AKUSTIK BAWAH AIR (HYDROACOUSTICS) DALAM EKPLORASI DAN EKSPLOITASI SUMBERDAYA LAUT DAN PERIKANAN

Oleh: MAMAN HERMAWAN

ABSTRAK

Teknologi akustik bawah air biasa disebut hydroacoustic atau underwater acoustics yang semula ditujukan untuk kepentingan militer telah berkembang dengan sangat pesat dalam menunjang kegiatan non-militer. Dengan teknologi mutahir, teknologi akustik bawah air dapat digunakan untuk kegiatan penelitian, survey kelautan dan perikanan baik laut wilayah pesisir maupun laut lepas termasuk laut dalam bahkan dapat digunakan diperairan dengan kedalaman sampai dengan 6000 meter. Teknologi akustik bawah air dapat digunakan untuk mendeteksi sumberdaya hayati dan non-hayati baik termasuk survey populasi ikan yang relatif lebih akurat, cepat dan tidak merusak lingkungan dibandingkan dengan teknik lain seperti metode statistik dan perhitungan pendaratan  ikan di pelabuhan (fish landing data).

Key word: underwater acoustics, penelitian, sumberdaya hayati, non-hayati.

Baca pos ini lebih lanjut

Penyu Laut (Hewan cantik yang tergusur)

Oleh : Ma’ruf Kasim*

Gerakannya yang unik dan khas seakan menggambarkan kelihayan perenang dasar laut yang mempesona. Ini mungkin bisa menggambarkan betapa unik dan indah melihat penyu laut berenang bebas di bawah permukaan laut.  Dengan menggerakkan kedua kaki renang depan untuk mengontrol gerakan dan kecepatan, hewan ini bergerak gesit di dasar laut. Juga dengan bantuan kaki belakang sebagai penyeimbang seakan memberikan kesempurnaan gaya renang yang memukau.

Ada beberapa jenis (species) penyu laut yang hidup di perairan .  Diantaranya penyu hijau atau dikenal dengan nama green turtle (Chelonia mydas), penyu sisik atau dikenal dengan nama Hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata), penyu lekang atau dikenal dengan nama Olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing atau dikenal dengan nama Leatherback turtle (Dermochelys olivacea), penyu pipih atau dikenal dengan nama Flatback turtle (Natator depressus) dan penyu tempayan atau dikenal dengan nama Loggerhead turtle (Caretta caretta). Dari jenis ini Penyu Belimbing adalah penyu terbesar dengan ukuran mencapai 2 meter dengan berat 600 – 900 kg.  Yang terkecil adalah penyu lekang dengan ukuran paling besar sekitar 50 kg. Baca pos ini lebih lanjut

Pengembangan Teknologi Penangkapan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Ikan

Kegiatan penangkapan ikan di wilayah perairan Indonesia sudah mendekati kondisi yang kritis. Tekanan penangkapan yang meningkat dari hari ke hari semakin mempercepat penurunan stok sumberdaya ikan. Tingginya tekanan penangkapan khususnya di pesisir pantai telah menyebabkan menurunnya stok sumberdaya ikan dan meningkatnya kompetisi antar alat penangkapan ikan yang tidak jarang menimbulkan konflik diantara nelayan. Sebagai akibat dari menurunnya pendapatan, nelayan melakukan berbagai macam inovasi dan modifikasi alat penangkapan ikan untuk menutupi biaya operasi penangkapannya.

Pelanggaran penggunaan alat tangkap dan metoda penangkapan ikan bukan berita baru lagi dalam kegiatan penangkapan ikan. Salah satunya adalah pelanggaran penggunaan trawl (pukat harimau) secara illegal di beberapa wilayah peraiaran. Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: