Menjebak Ikan dengan Setnet

Miniatur SetnetSekelompok ikan tengah bergerak mendekati pantai. Di tempat itu ikan-ikan tersebut berharap menjumpai makanan berlimpah. Atau setidaknya mereka bisa menemukan tempat memijah yang nyaman. Selepas itu biasanya mereka kembali bergerombol dan meninggalkan perairan pantai. Tapi kali ini mereka tak bisa meninggalkan perairan pantai begitu saja. Sesuatu telah menghadang ruaya mereka!
Setnet namanya. Sebentuk jaring yang dipasang secara menetap pada suatu perairan. Alat inilah yang telah menghadang pergerakan ikan-ikan tadi. Tingkah laku ikan yang umumnya melakukan ruaya sepanjang pantai (coastal migration) ataupun beruaya ke arah pantai (inshore migration) tersebut telah dimanfaatkan menjadi alat tangkap ikan yang ampuh. Maka, urusan menangkap ikan kini bukan menjadi perkara sulit lagi.

Jenis Perangkap
Teknologi penangkapan ikan dengan setnet sebenarnya bukan hal baru. Di Jepang, teknologi itu telah berkembang lebih dari 400 tahun silam. Alat ini banyak dijumpai hampir di seluruh daerah perairan pantai di negeri Samurai itu sejak lama.
Di Indonesia, pengembangan setnet baru dimulai pada 2006, dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK)-Institut Pertanian Bogor (IPB). Dua motor utamanya adalah Mulyono S Baskoro, Kepala Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP) dan Totok Hestirianoto, pengajar di Departemen Ilmu Kelautan. Dalam proyek itu, IPB juga menggandeng Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dan PT Sorong Mina Raya-Sorong.
Kepada TROBOS, Mulyono memaparkan, setnet merupakan alat tangkap jenis perangkap. Efektivitas perangkap dalam pengoperasian alat ini sangat bergantung pada hal-hal yang bertalian dengan behavior (tingkah laku) ikan tersebut. Terlebih mengingat alat ini dioperasikan secara terus-menerus siang dan malam. ”Kunci utama pengoperasian setnet adalah dengan memanfaatkan tingkah laku ikan,” urai Mulyono.
Lebih lanjut dijelaskan, setnet terdiri atas  4 bagian utama yaitu leadernet, bodynet (playground), slope dan funnelnet, serta bagnet. Leadernet berfungsi untuk menghadang rute migrasi kelompok ikan dan mengarahkan kelompok ikan ke playground. Playground, berfungsi mencegah ikan-ikan untuk melarikan diri dari segala sisi. Sementara  slope dan funnelnet berfungsi untuk mengarahkan ikan masuk ke bagnet dan memutuskan rute kelompok ikan. Bagnet, berfungsi sebagai tempat terakhir kelompok ikan berkumpul karena terperangkap dan tempat pemanenan hasil tangkapan. “Di sinilah ikan-ikan berkumpul dan bagian ini pula yang di-hauling (diangkat/dipanen) setiap hari oleh nelayan,” terang Mulyono.

Survei Kedalaman
Untuk pemasangan setnet, Mulyono mengungkapkan, sebelumnya harus dilakukan survei kondisi oseanografi perairan. Ini akan mempengaruhi hasil tangkapan. Survei tersebut antara lain meliputi kekuatan arus dan kontur dasar perairan  untuk menentukan seberapa dalam jaring bisa dipasang serta berapa dalam migrasi ikan.
Kekuatan arus sebaiknya tidak melebihi 5 knot dan garis-garis isodepth (kedalaman yang sama)  sebaiknya berdekatan antara garis kedalaman yang satu dengan yang lainnya. Sebab, kelompok ikan akan menipis dan menyebar bila isodepth menyebar. Sebaliknya bila isodepth saling berdekatan atau merapat sifatnya, maka kelompok-kelompok ikan tetap dalam keadaan besar dan padat menuju setnet. Garis-garis isodepth yang membentang dari perairan pantai ke arah perairan yang lebih dalam akan menentukan disain dan konstruksi setnet. Berdasarkan garis-garis isodepth tadi dapat pula diprediksi alur ruaya ikan serta dapat diperkirakan luas area yang membentang di hadapan setnet.
Berdasarkan tempat pemasangan setnet dan ukurannya, ada tiga macam setnet yaitu setnet besar (large setnet) yang dipasang pada kedalaman lebih dari 40 m; setnet sedang (medium setnet) yang dipasang pada kedalaman 25m – 40m dan setnet kecil (small setnet) yang dipasang pada kedalaman kurang dari 25 m.
Pada pembuatan setnet, Mulyono mengaku biayanya mencapai Rp 110-150 juta/unit untuk yang small setnet dan Rp 450 juta/unit untuk yang medium setnet. ”Biaya ini lebih murah dibandingkan jika  membeli dari Jepang. Harganya bisa 10 juta yen (sekitar Rp 800 juta) per unit,”

Banyak Keuntungan
Menangkap ikan dengan menggunakan setnet menurut Mulyono, akan memperoleh banyak keuntungan dibandingkan dengan alat tangkap konvensional. Diantaranya lebih ekonomis karena memerlukan sedikit bahan bakar (BBM). Alat ini juga mudah dan hanya butuh sedikit waktu dalam pengoperasiannya.
Hasil tangkapannyanya pun dalam keadaan hidup. Artinya nilai jual akan meningkat karena kualitas kesegaran ikan masih terjaga. Alat tangkap ini juga bersifat selektif dalam menangkap ikan yang bermigrasi. ”Jika yang tertangkap adalah ikan yang dilindungi atau masih terlalu kecil bisa dilepas lagi atau dipelihara dalam keramba, ini akan mendukung marine culture,” kata Mulyono.
Tak cuma itu, pemasangan setnet ini bisa untuk mengembangkan kerjasama kelompok nelayan. Karena  pengoperasiannya harus secara berkelompok. Setnet juga bisa untuk menjaga kesatuan wilayah NKRI. Karena sifatnya yang menetap, maka bisa dipasangi bendera sebagai penanda wilayah. ”Nelayan asing yang melihatnya akan berpikir bahwa perairan  tersebut sudah ada yang mengelola.”
Sedikit permasalahan dalam pengoperasian setnet adalah dinding jaring menjadi berat akibat ditempeli oleh rumput laut (seagrass) atau tritip (kerang-kerang kecil). Untuk mengatasinya Mulyono menyarankan, jika hauling dilakukan setiap hari, paling tidak 2 bulan sekali jaring harus dibersihkan dari seagrass dan tritip tadi.
Masalah lain adalah saat musim gelombang dan angin kuat, posisi dinding jaring menjadi agak bergeser karena pemberat atau jangkar kurang mencengkeram dasar perairan sehingga mudah terangkat. Bisa juga karena tali pemberat atau tali jangkar putus akibat gesekan atau simpul ikatan yang kurang kuat.
Untuk itu, dalam pengoperasian dan perawatan setnet ini harus tersedia kapal atau perahu khusus. Kapal tersebut harus dilengkapi dengan line hauler dua buah pada salah satu sisi kapal dan harus  tersedia palka ikan. Kapal inilah yang akan beroperasi tiap hari ke tempat setnet dipasang.
Dari uji coba dan pengembangan setnet di Kabupaten Raja Ampat, Irian Jaya Barat yakni di perairan Pulau Gam-¬6 jam perjalanan dari Sorong-¬ Mulyono menyebutkan, pada hauling  pertama berhasil memanen ikan kuwe sebesar 250 kg dan ikan kembung 50 kg. Kemudian dua hari berikutnya, saat hauling kedua berhasil menangkap ikan kembung 250 kg. Menurut Mulyono, beberapa daerah diantaranya Bangka-Belitung, Banten dan Aceh, berencana memasang setnet pada tahun ini.

Perihal bangzabar
InDah-nya Berbagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: